Sabtu, 15 Juni 2013

Kutipan dan Bibliografi


v  KUTIPAN
1.      Pengertian kutipan
     Kutipan adalah pinjaman kalimat atau pendapat dari seseorang pengarang atau ucapan seseorang yang terkenal, baik yang terdapat dalam buku maupun majalah. Sangat membuang waktu bila sebuah kebenaran yang sudah diselidiki dan dibuktikan oleh seseorang ahli serta sudah dimuat secara luas dalam sebuah buku dan majalah harus diselidiki kembali oleh seorang penulis untuk menemukan kesimpulan yang sama. Penulis cukup mengutip pendapat yang dianggapnya benar itu dengan menyebutkan dimana pendapat itu di baca sehingga pembaca dapat mencocokkan kutipan itu dengan sumber aslinya.
     Walaupun kutipan dari pendapat dari seorang ahli itu diperkenankan, tidaklah berarti bahwa sebuah tulisan seluruhnya dapat terdiri atas kutipan-kutipan. Penulis harus bisa menahan dirinya untuk tidak terlalu banyak mempergunakan kutipan supaya karangan jangan dianggap sebagai suatu himpunan dari berbagai macam pendapat.[1]

2.      Fungsi Kutipan
Fungsi kutipan diantaranya :
1.      Sebagai landasan teori.
2.      Penguat pendapat penulis.
3.      Penjelasan suatu uraian.
4.      Bahan bukti untuk menunjang pendapat itu.
 Sedangkan fungsi utama kutipan dalam karya ilmiyah adalah menegaskan isi uraian atau membuktikan kebenaran yang diajukan oleh penulis berdasarakan bukti-bukti yang diperoleh dari literature, pendapat seseorang atau pakar, bahkan pengalaman empiris. Peletakan kutipan dilakukan dalam dua cara yakni, catatan langsung (catatan perut) atau menjadi bagian catatan kaki. Peletakan pada catatan akhir (endnote) umumnya dilakukan andaikata penulis tidak menginginkan adanya penjelasan yang akan mengganggu keruntutan uraian pada teks.
     Hal-hal yang perlu dirhatikan dalam mengutip, diantaranya :
1.         Penulis mempertimbangkan bahwa kutipan itu perlu.
2.         Penulis bertanggung jawab penuh terhadap ketepatan dan ketelitian kutipan.
3.         Kutipan dapat terkait dengan penemuan teori.
4.         Jangan terlalu banyak mempergunakan kutipan langsung.
5.         Penulis mempertimbangkan jenis kutipan dan kaitan dengan sumber rujukan.[2]

3.      Macam-macam Kutipan
A. Kutipan Langsung
Kutipan langsung ialah kutipan yang sama persis dengan teks aslinya, tidak boleh ada perubahan. Kalau ada hal yamg dinilai salah/ atau meragukan, kita beri tanda (sic!), yang artinya kita sekedar mengutip sesuai dengan aslinya dan tidak bertanggung jawab atas kesalahan itu. Kutipan langsung terbagi 2, diantaranya :

a)   Kutipan yang kurang atau sama dengan 4 baris ditulis sebagai berikut :

·      Disatukan dengan teks
·      Ditulis dalam tanda kutip (“…….”)
·      Jarak antar kutipan 2 spasi
·      Pada akhir kutipan dituliskan data buku yang diletakkan dalam kurung atau dengan  
     menuliskan nomor rujukan catatan kaki.[3]






Contoh :
Ø Penyebutan Sumber Dengan Catatan Kaki
     Tidak semua masalah dapat dipecahkan dengan kemampuan berpikir dan nurani manusia. Oleh karena itu, manusia memerlukan sumber kebenaran yang berupa wahyu Tuhan.”… pengetahuan yang disampaikan-Nya [sic!] itu merupakan kebenaran yang tidak perlu disangsikan lagi.”1)
……………………………………………………………… uraian lebih lanjut
--------------------------
1)      Haadari Nawawi, Metode penelitian Bidang Sosial, (Yogyakarta : Gajah Mada University Press,1985),hal.4.
Keterangan :
·      Jika dalam mengutip ada bagian kalimat yang dihilangkan, bagian itu diganti dengan
     tanda titik tiga (…)
·      Isi catatan kaki diatas adalah : Nama engarang, judul buku, kota tempat terbit, nama
     penerbit, tahun penerbit, halaman yang dikutip
·      Judul buku ditulis dengan garis bawah atau huruf miring

Ø  Penyebutan sumber dengan catatan langsung (catatan perut)
      Tidak semua masalah dapat dipecahakan dengan kemampuan berfikir dan nurani manusia. Oleh karena itu, manusia memerlukan sumber kebenaran yang berupa wahyu Tuhan.”… pengetahuan yang disampaikan-Nya [sic!] itu merupakan kebenaran yang tidak perlu disangsikan lagi.”(nawawi,1985:4).
……………………………………………………………………….. Uraian lebih lanjut

b)     Kutipan lansung yang lebih 4 baris, dapat ditulis sebagai berikut :
·            Tidak disatukan dengan teks, tapi dipisahkan dengan jarak 2,5 spasi
·            Ditulis dengan spasi rapat (satu spasi)


Contoh :
Kebebasan pers bukan berarti bahasa Indonesia dalam surat kabar dapat dilakukan dengan sebebas-bebasnya tanpa memedulikan kaidah-kaidah berbahasa. Penggunaan bahasa Indonesia di surat kabar harus tetap berpedoman kepada kaidah-kaidah berbahasa Indonesia karena banyak kalangan yang peduli terhadap perkembangan bahasa Indonesia mengharapkan media massa dapat berperan aktif dalam membantu pembinaan, pengembangan, dan peningkatan bahasa Indonesia bagi masyarakat.

“Surat kabar merupakan medium yang paling tepat digunakan dalam pembinaan Bahasa Indonesia. Sebaliknya juga dapat terjadi, surat kabar merupakan perusak bahasa bila para wartawan yang menulis berita tidak mengindahkan pemakaian bahasa yang baik. Kita mengharapkan, media surat kabar yang setiap hari dibaca oleh masyarakat memberikan peranan yang positif dalam pembinaan bahasa masyarakat, bukan sebaliknya” (Semi, 1995:113).
3.      Kutipan tidak langsung (Kutipan Isi)
 Dalam kutipan tidak langsung kita hanya mengambil inti sari pendapat yang kita kutip. Kutipan tidak langsung ditulis menyatu dengan teks yang kita buat dan tidak usah diapit dengan tanda petik. Penyebutan sumber dapat dengan sistem catatan kaki, dapat juga dengan sistem catatan langsung (catatan perut).
Contoh :
Tidak semua masalah dapat di pecahkan dengan kemammpuan berpikir dan nurani manusia. Oleh karena itu, manusia memerlukan sumber kebenaran yang berupa wahyu Tuhan. Kebenaran itu harus bersifat mutlak dan sebagai manusia kita harus menyakininya.
v  BIBLIOGRAFI
1.         Pengertian Bibliografi
            Bibliografi atau daftar pustaka adalah daftar yang memuat judul buku, majalah, brosur, bulletin, surat kabar yang digunakan sebagai referensi atau sumber acuan dalam penyusunan suatu karangan.[4]
2.         Fungsi bibliografi
a.       Sebagai alat untuk melihat sumber asli
b.      Sebagai penunujuk referensi atau sumber yang digunakan
c.       Sebagai pelengkap catatan kaki[5]
3.      Unsur-unsur dalam bibliografi
a.       Nama pengarang ditulis dengan cara membalikkan unsur-unsur namanya.
b.      Tahun terbit ditulis setelah nama pengarang
c.       Judul buku, termasuk judul tambahannya.
d.      Data publikasi yang meliputi: penerbit, kota, dan tahun penerbit.
e.       Untuk sebuah artikel diperlukan juga judul artikel, nama majalah, jilid, nomor, dan tahun terbit.
4.      Bentuk-bentuk bibliografi
1)      Buku yang ditulis oleh seorang pengarang
Chaer, Abdul. 1993. Pembakuan Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta


Keterangan:
a)      Susunan nama dibalik.
b)      Jika buku itu disusun oleh sebuah komisi atau lembaga, nama komisi atau lembaga itu dipakai menggantikan nama pengarang.
c)      Jika tidak ada nama pengarang, urutannya harus dimulai dengan judul buku.
d)     Tahun terbit ditulis setelah nama pengarang.
e)      Judul buku harus digaris bawahi atau dimiringkan.
f)       Perhatikan pula penggunaan tanda titik sesudah tempat terbit.
g)      Perhatikan penggunaan tanda titik sesudah tiap keterangan, yaitu sesudah nama pengarang, tahun terbit, judul buku, dan penerbit.

2)      Buku yang ditulis oleh dua atau tiga orang pengarang:
           Arifin, E. Zainal dan Amran Tasai. 1993. Cermat berbahasa Indonesia.        Jakarta:MSP.
Keterangan:
a)      Nama pengarang keduan dan ketiga tidak dibalikkan.
b)      Urutan nama pengarang harus sesuai dengan apa yang tercantum pada halaman  judul buku, tidak boleh diadakan perubahan urutannya.
c)      Dalam hal-hal lainnya sama seperti nomor 1.

3)      Buku yang ditulis oleh banyak pengarang:
Firdaus, Winci, dkk. 2009. Bahasa Indonesia. Banda Aceh: Pusat Bahasa dan        Pengembangan Tenaga Pengajar.

Keterangan:
a)      Hanya nama pengarang pertama yang dicantumkan dengan susunan terbalik.
b)      Untuk menggantikan nama-nama pengarang lainnya, cukup menggunakan singkatan dkk (dan kawan-kawan).
c)      Dalam hal lainnya sama seperti nomor 1.

4)      Editor dan penyunting:
Ali, Lukman (ed).1967. Bahasa dan Kesusastraan Indonesia sebagai Tjermin Menulis Indonesia Baru. Jakarta: Gunung Agung.


5)      Sebuah buku terjemahan
Multatuli, Max Havelar. 1972. Lelang Kopi Persekutuan Dagang Belanda,
                 terj. H. B. Jassin. Jakarta: Djambatan.
Keterangan:
a)      Nama pengarang asli yang diurutkan dalam urutan alfabets.
b)      Keterangan tentang penerjemah ditempatkan sesudah judul buku dan dipisahkan dengan sebuah tanda koma.
c)      Dalam hal lainnya sama seperti nomor 1.

6)      Artikel dalam jurnal:
Hidayat, Nur.2002. “Analisis Perbandingan Laporan Keuangan Fiskal vs Laporan Keuangan Komersial,” Jurnal Perpajakn Indonesia. 1:10, 32-39.
Keterangan:
a)      Judul artikel dalam tanda petik dua.
b)      Nama buku atau jurnal majalah ditulis dengan huruf miring

7)      Artikel dalam majalah atau Koran:
Huda, M. 13 November, 1991. Menyiasati Krisis Listrik Musim Kering. Serambi Indonesia. Hlm. 6.

8)      Tajuk rencana dan artikel tanpa nama:
Tajuk Rencana. 24 September, 2004. “Membangun Perangkat Lunak Demokrasi,” Kompas. Hlm. 9.

9)      Wawancara atau interview dari radio dan televisi:
Sugianto, Bedjo. 15 Agustus, 2007. Interview Televisi,” Mahalnya Uang Pangkal di PTN bagi Calon Mahasiswa Baru,” Televisi Pendidikan Indonesia.
                                   


10)  Skripsi, tesis, dan disertai yang belum diterbitkan:
Parera, Jos Daniel. 1964. “ Fonologi Bahasa Gorontalo.” Skripsi Sarjana Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta.

11)  Makalah yang disajikan dalam seminar, penataran, atau lokakarya:
Manan, Bagir.  2004. Mewujudkan  Peradilan yang Bersih dan Beribawa Melalui Good Governance. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Medan, tanggal 10 Januari.

12)  Sumber dari internet:
Kumaidi. 1988. “Pengukuran Bekal Awal Belajar dan Pengembangan Teasnya.”Jurnal Ilmu Pendidikan, (Online), jilid 5, No. 4, (http;//malangac.id. diakses 20 Januari 2000).






  


Daftar Pustaka
    
Firdaus, Winci, dkk. 2009. Bahasa Indonesia. Banda Aceh: Pusat Bahasa dan        Pengembangan Tenaga Pengajar.
Js kamdi. 2007 Terampil Berwicara Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: PT. Grasindo.
Juanda Asep. Kaka Rosdyanto.2006. Intisari Bahasa dan Sastra Indonesia. Bandung:
                      Pustaka Setia.
Paramita Dwitya. 2006 Bahasa Kuliah. Jakarta. PT. Macana Jaya.


                                                                                                                                                          







[1] Winci Firdaus, dkk, Bahasa Indonesia, (Banda Aceh : Pusat Bahasa dan Pengembangan Tenaga Pengajar,2009),hal.124.
[2] Paramita Dwitya. Bahasa Kuliah. (Jakarta. PT. Macana Jaya. 2006). hlm. 63
[3] Ibid. hlm. 64
[4] Js kamdi, Terampil Berwicara Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.(Jakarta: PT. Grasindo. 2007). Hlm.223
[5] Juanda Asep. Kaka Rosdyanto, Intisari Bahasa dan Sastra Indonesia. (Bandung: Pustaka Setia. 2006). Hlm.243

Tidak ada komentar:

Posting Komentar